Ajari Buah Hati dengan 7 Cara Menghindari Penculikan

Akhir-akhir ini marak beredar informasi tentang penculikan anak, baik dari media online, cetak, desas desus berita yang beredar di masyarakat dan bahkan dari laporan Orang Tua peserta didik yang khawatir atas berita tersebut.

Beberapa langkah telah diambil guna mengatasi permasalahan ini, salah satunya Sekolah Radmila telah meningkatkan komunikasi antara sekolah dan orang tua / wali, meningkatkan sistem keamanan di sekolah serta terus memberi peringatan khusus kepada peserta didik berhubungan dengan hal tersebut. Tujuannya adalah agar kejadian yang ditakutkan ini, tidak terjadi pada Buah Hati kita.

Di sisi lain butuh peranan keluarga, dalam hal ini orang tua / wali yang selalu bisa menjaga buah hatinya saat sedang di luar sekolah. Berikut ini 7 cara sebagai keluarga atau orang tua dalam melatih anak agar terhindar dari penculikan:

1. Ajari anak berani menolak
Cara pencegahan ini bermaksud agar anak menyadari bahaya yang bisa jadi tengah dihadapinya. Baik di lingkungan rumah maupun di tempat umumr, Moms harus melatih anak agar berani menolak pemberian apapun dari orang asing, tidak berbicara dengan orang yang tak dikenal, memberontak jika diajak paksa untuk pergi ke suatu tempat hingga melarang sentuhan di bagian tubuh tertentu. Anak harus diingatkan bahwa ia tak bisa pergi dengan orang lain tanpa seizin orang tua. Sebab beragam iming-iming bisa dijadikan modus penculikan. Misalnya, mengajak anak main ke tempat favorit, membelikan jajanan, meminta tolong anak membantu si penculik mencari barang yang hilang, dan banyak lagi.

2. Mengenalkan perbedaan orang asing dan orang yang dikenal baik
Moms harus menjelaskan pada Si Kecil definisi orang asing atau tak dikenal adalah mereka bukan bagian dari keluarga. Ajari Si Kecil mengenali orang yang pernah ia temui dan tidak, mana yang menurutnya asing dan familiar? Katakan juga, orang jahat tak selalu tampak menakutkan. Tapi, ia biasanya berlaku sangat baik karena ia memiliki niat-niat tertentu yang belum tentu bear. Di sini tingkat kewaspadaan anak akan terlatih dan membantunya memiliki insting saat berhadapan dengan bahaya.

3. Beritahu siapa orang yang bisa dimintai pertolongan
Jika Si Kecil sudah dibekali gadget ia mungkin bisa menghubungi keluarga atau nomor penting lain untuk dimintai bantuan. Namun, jika tidak dan ia dalam keadaan sendirian, tunjukkan pada anak siapa orang yang harus ia datangi segera ketika ada orang asing yang mencurigakan. Orang tersebut bisa satpam, polisi, penjaga toko, perempuan, orang tua yang sedang membawa anak.

4. Biasakan anak bercerita
Komunikasi sehari-hari Moms dan Si Kecil bukan hanya sekadar menanyakan sekolah, makanan, dan kegiatannya hari itu. Tapi, juga dengan siapa ia berinteraksi. Bangun komunikasi terbuka agar tanpa diminta anak mau bercerita dan tak menyimpan rahasia. Misal, ada orang yang baru ia kenal tapi memegang bagian vital di tubuhnya. Nah, Moms harus jelaskan hal-hal seperti itu wajib diceritakan pada orang tua. Tujuannya agar Si Kecil bisa merespons dengan benar jika menghadapi bahaya tersebut.

5. Punya password yang harus diingat
Ada modus penculikan dengan menakuti-nakuti Si Anak agar panik dan terhasut ajakan penculik. Misalnya, dengan mengatakan ‘Mama tidak bisa jemput karena sedang sakit, jadi kamu diminta pulang sama Om/Tante’. Jika itu terjadi, tanyakan password pada si penculik. Jika passwordnya tidak sama, anak tak boleh pergi.

Nah, password ini bisa Moms sepakati dengan anak dan ditentukan kata-kata yang mudah ia ingat. Misalnya, nama binatang peliharaan, tanggal lahir anak, nama guru yang dikenal anak, dan sebagainya.

Ajari juga agar anak berani bertanya identitas orang yang memaksanya ikut pergi tersebut. Misal, ‘Kalau Om kenal Mama, apa alamat rumahku? Siapa nama lengkap Mama’ dan seterusnya.

6. Jalin kedekatan dengan guru dan orang tua murid yang lain
Jika Moms atau pengasuh berhalangan menjemput, anak harus memberitahukan pada guru. Moms juga demikian, jangan lupa sebelumnya menginformasikan pada guru di kelas maupun pada orang tua murid yang lain. Selain ikut menjaga, bukan tak mungkin ada orang tua murid yang bersedia mengantarkan Si Kecil pulang ke rumah dengan lebih aman dan selamat.

7. Dalam kondisi terpaksa lakukan ini
Penculikan bisa saja terjadi dalam kondisi sekitar sedang ramai seperti di pusat perbelanjaan. Sebab untuk anak yang sudah bisa berlari ia tentu jarang betah berdiam lama dan ingin berjalan-jalan sendiri. Kalau sudah begini, Moms harus buat kesepakatan sebelum berangkat, bahwa anak tak boleh jauh-jauh dari Moms, selalu melihat dimana Moms berada, dan berteriak jika ada orang asing yang mengganggunya.

Dalam kondisi terpaksa anak juga diajari untuk berteriak, memanggil nama Mama, dan menangis. Tujuannya untuk mencari perhatian orang sekitar agar membantunya dan agar Moms sadar anak tengah menghadapi bahaya.(by:ED)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *